Wartawan, Profesi yang mana Paling Dimuliakan pada Al-Qur’an

JAKARTA – Profesi wartawan , jurnalis atau pekerja media patut berbangga. Pasalnya, profesi yang berkaitan dengan media kemudian pemberitaan ini ternyata mendapat tempat yang dimaksud sangat mulia pada Al-Qur’an, yakni pada Surat An-Naba’ Surat ke 78 yang mana diartikan sebagai Berita Besar.
Penegasan ini disampaikan Menteri Agama (Menag) KH Nasaruddin Umar ketika menyampaikan tausyiah mendekati menerbitkan puasa bersatu Diskusi Pemimpin Redaksi (FP) dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) di area Hotel Mulia, Jakarta, Jumat, 7 Maret 2025.
“Tidak ada profesi yang tersebut begitu dimuliakan pada Al-Qur’an selain wartawan, oleh sebab itu disebutkan sebagai nama surat yaitu Surat An-Naba’ yang dimaksud artinya pemberitaan,” kata Menag.
Karena itu, Menag yang juga pernah menjadi wartawan dan juga penulis dalam banyak media nasional ini mengaku senang lalu bangga dengan profesi wartawan. Al-Qur’an juga menegaskan betapa pentingnya peranan wartawan juga media itu sebagai sarana penyampai informasi yang mana dapat dipercaya masyarakat.
“Saya kira tak ada profesi yang dijadikan nama surat pada Al-Qur’an selain An-Naba’,” kata Nasaruddin yang dimaksud juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Ibukota Indonesia ini.
Buka puasa sama-sama bertajuk “Silaturahmi Ramadan FP Charity lalu BSI” ini dihadiri para pemimpin redaksi media nasional serta jurnalis senior. Hadir pula Direktur Utama BSI Hery Gunardi juga seluruh jajaran direksi BSI.
Nasaruddin berpesan terhadap warga agar berhati-hati mencerna informasi di area media. Karena belakangan sejumlah sekali kabar berita yang dimaksud disebarkan oleh media yang tersebut fasik, gemar menyebarkan kabar bohong dan juga tidak ada bertanggung jawab. “Jangan sampai media fasik ini mengalahkan media-media yang mana bertanggung jawab,” kata Menag.
Faktanya, lanjut Menag, penduduk Indonesia lebih besar gampang percaya berita yang disampaikan oleh media fasik itu. Daripada berita dari media-media yang mana bertanggung jawab yang digunakan dipimpin para pemimpin redaksi yang hadir di dalam sini.
Karena itu, Nasaruddin berpesan agar berita yang berasal dari media fasik wajib diklarifikasi dulu kebenarannya. Sedangkan media yang digunakan bertanggung jawab pemberitaan nya mampu dipercaya. Karena media arus utama ini terus-menerus diikat oleh kode etik jurnalistik.
“Jadi kita wajib hati-hati kalau mendapatkan berita dari media fasik yang digunakan seringkali kabar bohong atau bahkan sengaja menghasilkan informasi yang merusak.”




