Ulah Pemimpin Kartel, Pasokan Minyak Arab Saudi ke China Drop

JAKARTA – Pasokan minyak mentah Arab Saudi ke China mengecil pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan Reuters. Hal ini terjadi pasca kerajaan meninggal tarif minyaknya ke level tertinggi di lebih banyak dari dua tahun terakhir.
Saudi Aramco akan menurunkan kontrak pengiriman minyaknya ke China selama dua bulan berturut-turut. Perusahaan ini berencana untuk mengirimkan sekitar 41 jt barel minyak ke China pada Maret turun dari Februari 43,5 jt barel yang digunakan dikirim pada Februari kemudian melanjutkan tren penurunan alokasi minyak Aramco ke China.
Selama periode yang mana sama, kilang Fujian, sebuah perusahaan patungan antara perusahaan negara China Sinopec juga Aramco akan menurunkan asupan minyak mentahnya. Hari Minggu lalu, Aramco, perusahaan minyak Arab Saudi, secara signifikan meninggal nilai untuk pengiriman minyak mentah yang dimaksud dijadwalkan untuk bulan Maret. Kenaikan nilai ini ditujukan untuk para pembeli dalam seluruh Asia, termasuk negara-negara besar seperti China kemudian India, lalu juga wilayah-wilayah lain dalam seluruh dunia.
Kenaikan Harga
Saudi Aramco sudah pernah meninggal nilai jual resmi (OSP) untuk minyak mentah andalannya, Arab Light. Harga dinaikkan sebesar USD2,40 menjadi USD3,90 per barel di dalam melawan rata-rata patokan Oman/Dubai. Ini adalah merupakan kenaikan biaya tertinggi sejak Desember 2022 kemudian menandakan perkembangan yang mana signifikan dalam bursa minyak global.
Rata-rata patokan Oman/Dubai adalah harga jual referensi yang mana umum digunakan untuk minyak mentah pada Timur Tengah. Kenaikan OSP untuk minyak mentah Arab Light mencerminkan pengetatan pangsa minyak juga peluang kenaikan permintaan minyak secara global.
Langkah ini mengindikasikan pengetatan pangsa minyak global dan juga dapat menyebabkan biaya materi bakar yang digunakan lebih lanjut tinggi bagi konsumen di tempat wilayah yang digunakan terkena dampak. Hal ini juga terjadi pada tengah-tengah kekurangan minyak mentah yang dimaksud berasal dari Rusia pasca Negeri Paman Sam menjatuhkan sanksi baru pada Januari. Baik India maupun China telah terjadi menghadapi kesulitan pada mendapatkan sumber minyak dari Rusia, yang dimaksud sudah pernah meningkatkan permintaan barel minyak mentah dari Timur Tengah.
Sementara, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) kemudian sekutunya, yang digunakan bertanggung jawab sekitar separuh suplai minyak global, diperkirakan akan mempertahankan pemangkasan produksi hingga kuartal pertama tahun ini.
Kelompok ini dijadwalkan untuk meningkatkan produksi mulai April dengan menurunkan beberapa pengurangan produksi sukarela sebesar 2,2 jt barel per hari. Langkah untuk mempertahankan tingkat produksi yang digunakan stabil pada waktu dekat kemungkinan ditujukan untuk menyokong nilai tukar minyak, yang tersebut telah lama bergejolak pada beberapa bulan terakhir dikarenakan berbagai faktor termasuk pandemi global yang dimaksud sedang berlangsung lalu dampaknya terhadap permintaan.
Arab Saudi adalah pemimpin de-facto kartel OPEC+. Impor minyak mentah China tahun 2024 dari Arab Saudi, pemasok terbesar kedua pasca Rusia, turun 8,5% dari tahun 2023 menjadi 78,64 jt metrik ton atau 1,57 jt barel per hari, menurut data Bea Cukai China.




