Nasional

Trump lalu Ilusi Perombakan Tatanan Planet

Eko Ernada
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

SETIAP zaman memiliki pemimpinnya, dan juga setiap pemimpin menghadapi ujian zamannya. Donald Trump adalah produk-produk dari kegelisahan rakyat Amerika yang merasa tatanan dunia yang mereka bangun sudah pernah kehilangan relevansinya. Dengan gaya kepemimpinan yang mana tak konvensional, ia menantang norma-norma internasional yang sudah lama terbentuk. Kebijakan luar negerinya yang dimaksud agresif lalu proteksionis mengguncang panggung geopolitik, memaksa dunia untuk menakar ulang kedudukan serta strategi mereka. Namun, pertanyaannya tetap memperlihatkan relevan: apakah Trump benar-benar mengubah tatanan dunia, atau cuma mempercepat tren yang digunakan sudah berlangsung lama?

John J. Mearsheimer, pakar hubungan internasional dari Universitas Chicago, mengawasi langkah Trump sebagai perwujudan dari ‘realisme ofensif’, suatu pendekatan yang mana menantang dominasi tatanan liberal. Sementara itu, Fareed Zakaria, manusia analis geopolitik ternama, mengingatkan bahwa kebijakan Trump yang unilateralis dapat mengurangi kekuatan sistem multilateral yang dimaksud sudah pernah menopang stabilitas global. Dengan kebijakan skeptis terhadap organisasi seperti NATO juga PBB dan juga kebijakan perekonomian proteksionis, Trump menciptakan ketidakpastian yang mana mengubah kalkulasi geopolitik. Meski begitu, sejarah membuktikan bahwa Amerika Serikat kerap mengutamakan kepentingannya sendiri pada melawan komitmen kolektif.

Sejak abad ke-19, Amerika Serikat telah terjadi menunjukkan kecenderungan untuk bertindak secara unilateral. Doktrin Monroe (1823) menjadi pijakan bagi Amerika Serikat untuk menolak intervensi Eropa di dalam belahan bumi Barat. Kebijakan ini terus berulang di berbagai episode sejarah, mulai dari penolakan Kongres Amerika Serikat terhadap Turnamen Bangsa-Bangsa hingga kebijakan George W. Bush menarik diri dari Perjanjian Anti-Balistik (ABM) pada 2002. Trump bukanlah pelopor pada hal ini, melainkan hanya saja pewaris dari tradisi panjang yang mengutamakan kepentingan nasional di area berhadapan dengan diplomasi kolektif.

Pendekatan transaksional Trump juga bukanlah fenomena baru. Richard Nixon, misalnya, menerapkan “Realpolitik” pada menjalin hubungan dengan Tiongkok demi menyeimbangkan kekuatan pada Perang Dingin. Ronald Reagan pun tak ragu menggunakan diplomasi pragmatis pada menghadapi Uni Soviet. Apa yang dimaksud membedakan Trump adalah cara ia menyampaikan kebijakannya: tanpa basa-basi, blak-blakan, kemudian kerap kali berlawanan dengan norma diplomasi yang mana sudah ada mapan. Dalam berbagai hal, Trump lebih tinggi merupakan katalis daripada perombak tatanan global.

Di bidang ekonomi, proteksionisme yang tersebut diusung Trump dengan tarif tinggi terhadap Tiongkok juga negara lain mengingatkan pada kebijakan Smoot-Hawley Tariff Act (1930) yang dimaksud justru memperburuk Depresi Besar. Presiden George W. Bush juga pernah menerapkan tarif tinggi pada baja sebelum mencabutnya akibat tekanan global. Sejarah membuktikan bahwa proteksionisme lebih lanjut kerap berujung pada ketidakstabilan daripada kemakmuran. Meski demikian, kebijakan ini sejalan dengan tren global yang mana pada saat ini mulai bergeser dari liberalisme dunia usaha menuju nasionalisme ekonomi.

Selain kebijakan ekonomi, slogan “Make America Great Again” (MAGA) merefleksikan semangat nasionalisme dunia usaha yang mana menempatkan kepentingan domestik pada menghadapi segalanya. Hal ini berdampak pada pembaharuan cara dunia memandang AS: dari negara yang tersebut selama ini berperan sebagai pemimpin sistem internasional, menjadi aktor yang lebih lanjut berorientasi pada kepentingan jangka pendek. Akibatnya, sekutu-sekutu Negeri Paman Sam mulai mempertimbangkan kembali ketergantungan merek pada Washington, memunculkan dinamika geopolitik baru dalam Eropa kemudian Asia.

Kritik terbesar terhadap Trump adalah sikapnya yang tersebut meremehkan aliansi seperti NATO juga keputusannya menarik Negeri Paman Sam dari berbagai perjanjian internasional. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Amerika Serikat sudah pernah melakukan hal mirip di tempat masa lalu. Presiden Jimmy Carter, misalnya, mengakhiri perjanjian pertahanan dengan Taiwan untuk membuka hubungan dengan Tiongkok. Obama pun menarik pasukan dari Irak, yang dianggap sebagai pelemahan komitmen Negeri Paman Sam terhadap stabilitas global. Dengan demikian, langkah Trump bukanlah revolusi, melainkan ekspresi yang dimaksud lebih banyak keras dari kecenderungan kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang digunakan sudah berlangsung lama.

Bagi Indonesia, dinamika global ini menuntut respons yang mana cermat juga strategis. Ketergantungan terhadap Amerika Serikat pada aspek ekonomi lalu keamanan harus diimbangi dengan diversifikasi mitra internasional. Penguasaan hubungan dengan ASEAN, Uni Eropa, kemudian negara-negara Asia Timur menjadi langkah strategis untuk menghurangi dampak dari kebijakan luar negeri Negeri Paman Sam yang tersebut fluktuatif. Lebih dari itu, Indonesia harus meningkatkan kekuatan diplomasi sektor ekonomi agar lebih tinggi tangguh menghadapi dampak proteksionisme global. Selain itu, peningkatan penanaman modal di bidang berbasis teknologi dan juga pengembangan menjadi langkah penting agar Indonesia tidaklah semata-mata bertahan, tetapi juga menjadi pemain kunci di perekonomian global.

Dalam menghadapi ketidakpastian dunia, fleksibilitas diplomasi menjadi kunci agar Indonesia tak terjebak di dinamika kekuatan besar yang dimaksud terus berubah. Sejarah membuktikan bahwa bangsa yang tersebut mampu membaca arah angin pembaharuan akan tetap saja berdiri tegak, sementara mereka itu yang dimaksud gagal beradaptasi akan terseret arus. Indonesia, sebagai bangsa yang tersebut kaya akan sejarah kemudian kebijaksanaan geopolitik, miliki kesempatan untuk memainkan peran yang tersebut lebih lanjut bergerak pada kancah global. Diplomasi berbasis kepentingan nasional yang dimaksud seimbang antara realisme lalu idealisme perlu dikembangkan untuk memverifikasi bahwa Indonesia tiada semata-mata menjadi objek di transformasi geopolitik, tetapi juga subjek yang mampu menentukan masa depannya sendiri.

Pada akhirnya, inovasi tatanan dunia tiada ditentukan oleh satu pemimpin atau satu negara semata, melainkan oleh dinamika sejarah yang digunakan terus bergerak. Keberlanjutan sebuah bangsa tidaklah hanya saja bergantung pada bagaimana ia merespons perubahan, tetapi juga pada bagaimana ia membentuk masa depan dengan visi yang mana jelas juga langkah yang mana matang. Bumi terus berubah, serta di ketidakpastian ini, cuma dia yang digunakan berani membaca serta merancang masa depan yang mana akan bertahan. Indonesia harus memilih: menjadi sekadar penonton di panggung dunia, atau menjadi aktor yang menentukan arah sejarahnya sendiri.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button